Pengangguran di Makassar Tembus 9,60 Persen, Mayoritas Kaum Terdidik dan Lulusan Perguruan Tinggi

Kerumunan pencari kerja saat mengantre di meja registrasi dalam sebuah acara bursa kerja. (Dok: Istimewa)
MAKASSAR — Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Makassar mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Makassar berada di angka 9,60 persen. Angka ini dinilai cukup tinggi karena berada di atas rata-rata provinsi Sulawesi Selatan maupun nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) berbasis data 2025 yang dipublikasikan pada 2026, jumlah penduduk usia kerja yang tidak memiliki pekerjaan di Makassar mencapai 66.055 orang, atau sekitar 5,82 persen dari total angkatan kerja (usia 15 tahun ke atas).
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Makassar, Jusman, mengungkapkan bahwa tingginya angka pengangguran di Makassar memerlukan langkah penanganan dan intervensi khusus dari pemerintah daerah.
"Pengangguran di Kota Makassar ini sebenarnya cukup tinggi dibanding rata-rata provinsi dan nasional. Memang saat ini kami sedang berdiskusi untuk merumuskan intervensi dalam meredam angka pengangguran tersebut," ujar Jusman saat ditemui di Kantor Disnaker Makassar, Senin (2/11/2026).
Didominasi Kelompok Terdidik
Meski persentasenya terbilang tinggi, grafik angka pengangguran di Makassar secara bertahap menunjukkan tren perbaikan. Angka TPT Makassar tercatat mengalami penurunan sekitar 0,11 poin dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
Namun, tantangan tersendiri muncul dari komposisi para pencari kerja tersebut. Berdasarkan data BPS, pengangguran di Kota Makassar justru didominasi oleh kaum terdidik, yakni mencapai 8,90 persen. Kelompok ini mencakup lulusan SMA, SMK, hingga tingkat perguruan tinggi.
"Uniknya di Makassar, pengangguran umumnya didominasi kaum terdidik. Angkanya mencapai sekitar 8,90 persen," jelas Jusman.
Pasar Kerja Lebih Banyak Serap Lulusan SMK
Rekapitulasi data penempatan tenaga kerja Disnaker Makassar—baik melalui job fair, walk-in interview, maupun rekrutmen sektor pemerintahan—menunjukkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kualifikasi kelulusan dengan kebutuhan industri.
Saat ini, tingkat penyerapan pasar kerja justru didominasi oleh lulusan jenjang SMK/sederajat dengan persentase mencapai lebih dari 50 persen. Sementara itu, lulusan sarjana (S1) baru terserap di kisaran 34 persen.
"Dunia usaha dan industri di Kota Makassar saat ini lebih banyak membutuhkan tenaga kerja tingkat SMK sederajat. Sektor yang paling dominan menyerap adalah bidang keuangan, industri makanan cepat saji (fast food), dan sales marketing," papar Jusman.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota Makassar mendorong peningkatan arus investasi di sektor industri yang membutuhkan kualifikasi tenaga ahli tingkat sarjana, sehingga dapat menyerap para lulusan perguruan tinggi secara lebih optimal di masa mendatang.
